Newest Post

// Posted by :atlas // On :Senin, 13 Agustus 2018




Siren's Love

“Jam…jam…” kataku panik.

“Apa sih maksudmu?” hentak Alvi bingung melihat ke arahku yang tengah histeris.

“Hantu itu akan muncul 1 jam lagi.” Ucapku memastikan setelah aku melihat kearah jam tangan Alvi yang kini pukul 23.00 pas.

“Hantu apa sih? Kau jangan berbicara omong kosong bodoh” tanya Alvi.

“Aaah aku serius.” Teriak ku. “Dia akan mengejarmu. Dia akan mendapatkanmu apapun yang terjadi. Kita harus menghabisinya sebelum terlambat.” Kataku tak karuan.

“I-Ini! Kau baca ini.” Aku menyerahkan kertas yang aku pungut diatas tikar. Kertas itu langsung disahut oleh Alvi, dengan tatapan serius ia membacanya.

Aku ketakutan jantungku sedang berdegup tak karuan yang membuatku semakin tak tenang.  Meskipun yang diincar hantu Dii itu adalah si Alvi tetapi entah justru akulah yang begitu panik dibanding Alvi yang kini masih membacanya dengan pengamatan serius namun anteng.

 “Kita harus lari.” Ucap Alvi mendadak.

“Kita harus berlari kemana? Sekarang hampir dini hari. Dia juga pasti akan menemukanmu. Dia sudah mengenal bau-mu semenjak kau membuka petinya.”

Aku berdiri kemudian melangkahkan kakiku kedepan mencoba untuk menenangkan diri. Alvi hanya menatapku datar.

“Bagaimanapun kita harus lari bodoh.” Seketika Alvi menarik tanganku kemudian membawaku berlari yang entah arah mana yang kini tengah kami lalui. Aku hanya bisa pasrah membiarkan pemuda itu mencengkeram tanganku dengan kuatnya.

Sesekali kami menabrak tumbuh-tumbuhan rambat yang begitu lebat menyelimuti hutan ini. Acap kali juga kami hampir terjatuh karena kaki kami terpeleset atau tersangkut akar-akar tumbuhan  yang menjalar.

Hutan yang begitu gelap dan pekat kami lalui tanpa ada  arah yang harus kami tuju. Yang kami inginkan hanyalah keselamatan kami berdua karena bagaimanapun kami-lah yang menyebabkan ini terjadi.

Ya Tuhan aku mengikuti camping ini hanya untuk sebagai pelepas lelah otak ku yang setiap hari diharuskan untuk berpikir tentang tugas-tugas yang kian hari makin memuncak, bukan malah menambah masalah seperti ini.

Ini seperti mimpi namun mengapa reaksi yang terjadi detik ini gelagatnya begitu jelas atau mungkin memang nyata? Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelahnya. Aku hanya ingin pulang. Rasanya aku tidak bengitu menginginkan kegiatan semacam ini lagi.

Kami terus berlari tanpa haluan. Deru langkah kami terhenti seketika tatkala mendapati pohon yang begitu besar menghalangi. Kami mencoba berlari berputar haluan, namun yang kami dapati  tanaman-tanaman rambat yang tadinya memenuhi pijakan kami ternyata sekarang lenyap bak dihempas angin.

“Astaga ini apa lagi? Pliss aku mau pulang” keluhku tak tahan atas semua yang kini terjadi.
“Tenanglah kita pasti akan ditemukan para guru dan teman-teman” ucap Alvi yang mencoba menenangkanku walapun aku sama sekali tak mengindahkan perkataanya.

“Ayo kita berlari kearah yang lain” ujar Alvi.

“Tetapi aku sangat lelah, kita sudah berlari terlalu jauh” keluhku kesal.

Krieet..

Terdengar bunyi rekah-an yang begitu jelas. Kami menoleh keatas samping kanan maupun kiri untuk mencari sumber suara itu.

“Itu suara apa?” tanya ku panik.

”Diamlah, bisa tidak kau bersikap tenang sedikit saja!” seru Alvi yang membuatku semakin bersikap tak tentu.

Krieeeeeeet!! 

Suara itu kini semakin nyaring. Kami menoleh ke belakang yang ternyata pohon besar itu adalah sumber suaranya. Pohon itu bergerak, bagian tengahnya membuka pelan begitu pula akar-akarnya yang mencoba keluar dari dalam tanah.

Lubang dibagian tengah membentuk sebuah formasi yang mirip sepasang mata dengan mulut  menganga yang sontak membuatku menjerit. Tanpa pikir panjang kami berlari. 

Aku berlari mendahului Alvi entah apa yang membuat langkahku sekarang begitu cepat, namun perasaan takutlah yang kini tengah menyerangku. Aku berlari sekuat tenaga tanpa menghiraukan si Alvi.

Dii…

Itu pastu hantu Dii ia begitu besar lebih besar dari bayanganku ketika membaca isi dari kertas yang aku ditemukan seusai membuka peti matinya Dii. Alvi.. Alvi dimana?

Aku menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan Alvi, namun pemuda itu kini telah menghilang. Sial! Aku kini sendirian. Astaga aku benci semua ini.

Monster itu mengejarku. Pohon rasaksa yang menyeramkan itu kini tengah menuju ke arah ku. Aku berlari terhuyung karena kaki ku sudah tak leluasa untuk berlari cepat. Hanya derap-derap an kecil yang kini aku lakukan.

Mengapa monster itu mengejarku? Bukankah yang ia inginkan itu Alvi? Karena jelas-jelas si Alvi lah yang membuka kotak matinya. 

Langkahku terhenti ketika aku menemukan sebuah telaga yang terbentang luas dihadapanku. Sinar purnama yang kini muncul membantuku melihat arus  yang mengalir tenang oleh dorongan angin.

Sayu-sayu aku memandangi telaga itu yang entah mengapa aku ingin sekali untuk berenang dipermukaannya. Aku menyentuh air itu dengan kaki-ku, mengapakkan hingga timbul cipratan-cipratan kecil yang membasahi kaki ku hingga lutut.

Sedetik aku merasa tenang. Cipratan lembut menghanyutkan pikiranku. Tubuhku bergejolak ingin merasakan sensasi air telaga itu. 

bersambung....

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

// Copyright © SIRIUS,, //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //