Newest Post
Archive for Agustus 2018
Siren's Love
“Jam…jam…” kataku panik.
“Apa sih maksudmu?” hentak Alvi
bingung melihat ke arahku yang tengah histeris.
“Hantu itu akan muncul 1 jam lagi.”
Ucapku memastikan setelah aku melihat kearah jam tangan Alvi yang kini pukul
23.00 pas.
“Hantu apa sih? Kau jangan berbicara
omong kosong bodoh” tanya Alvi.
“Aaah aku serius.” Teriak ku. “Dia
akan mengejarmu. Dia akan mendapatkanmu apapun yang terjadi. Kita harus
menghabisinya sebelum terlambat.” Kataku tak karuan.
“I-Ini! Kau baca ini.” Aku
menyerahkan kertas yang aku pungut diatas tikar. Kertas itu langsung disahut
oleh Alvi, dengan tatapan serius ia membacanya.
Aku ketakutan jantungku sedang
berdegup tak karuan yang membuatku semakin tak tenang. Meskipun yang diincar hantu Dii itu adalah si
Alvi tetapi entah justru akulah yang begitu panik dibanding Alvi yang kini
masih membacanya dengan pengamatan serius namun anteng.
“Kita harus lari.” Ucap Alvi mendadak.
“Kita harus berlari kemana?
Sekarang hampir dini hari. Dia juga pasti akan menemukanmu. Dia sudah mengenal
bau-mu semenjak kau membuka petinya.”
Aku berdiri kemudian melangkahkan
kakiku kedepan mencoba untuk menenangkan diri. Alvi hanya menatapku datar.
“Bagaimanapun kita harus lari
bodoh.” Seketika Alvi menarik tanganku kemudian membawaku berlari yang entah
arah mana yang kini tengah kami lalui. Aku hanya bisa pasrah membiarkan pemuda
itu mencengkeram tanganku dengan kuatnya.
Sesekali kami menabrak
tumbuh-tumbuhan rambat yang begitu lebat menyelimuti hutan ini. Acap kali juga
kami hampir terjatuh karena kaki kami terpeleset atau tersangkut akar-akar
tumbuhan yang menjalar.
Hutan yang begitu gelap dan pekat
kami lalui tanpa ada arah yang harus
kami tuju. Yang kami inginkan hanyalah keselamatan kami berdua karena
bagaimanapun kami-lah yang menyebabkan ini terjadi.
Ya Tuhan aku mengikuti camping ini
hanya untuk sebagai pelepas lelah otak ku yang setiap hari diharuskan untuk
berpikir tentang tugas-tugas yang kian hari makin memuncak, bukan malah
menambah masalah seperti ini.
Ini seperti mimpi namun mengapa
reaksi yang terjadi detik ini gelagatnya begitu jelas atau mungkin memang
nyata? Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelahnya. Aku hanya ingin
pulang. Rasanya aku tidak bengitu menginginkan kegiatan semacam ini lagi.
Kami terus berlari tanpa haluan.
Deru langkah kami terhenti seketika tatkala mendapati pohon yang begitu besar
menghalangi. Kami mencoba berlari berputar haluan, namun yang kami dapati tanaman-tanaman rambat yang tadinya memenuhi
pijakan kami ternyata sekarang lenyap bak dihempas angin.
“Astaga ini apa lagi? Pliss aku mau
pulang” keluhku tak tahan atas semua yang kini terjadi.
“Tenanglah kita pasti akan
ditemukan para guru dan teman-teman” ucap Alvi yang mencoba menenangkanku
walapun aku sama sekali tak mengindahkan perkataanya.
“Ayo kita berlari kearah yang lain”
ujar Alvi.
“Tetapi aku sangat lelah, kita
sudah berlari terlalu jauh” keluhku kesal.
Krieet..
Terdengar bunyi rekah-an yang
begitu jelas. Kami menoleh keatas samping kanan maupun kiri untuk mencari
sumber suara itu.
“Itu suara apa?” tanya ku panik.
”Diamlah, bisa tidak kau bersikap
tenang sedikit saja!” seru Alvi yang membuatku semakin bersikap tak tentu.
Krieeeeeeet!!
Suara itu kini semakin nyaring.
Kami menoleh ke belakang yang ternyata pohon besar itu adalah sumber suaranya.
Pohon itu bergerak, bagian tengahnya membuka pelan begitu pula akar-akarnya
yang mencoba keluar dari dalam tanah.
Lubang dibagian tengah membentuk
sebuah formasi yang mirip sepasang mata dengan mulut menganga yang sontak membuatku menjerit. Tanpa
pikir panjang kami berlari.
Aku berlari mendahului Alvi entah
apa yang membuat langkahku sekarang begitu cepat, namun perasaan takutlah yang
kini tengah menyerangku. Aku berlari sekuat tenaga tanpa menghiraukan si Alvi.
Dii…
Itu pastu hantu Dii ia begitu besar
lebih besar dari bayanganku ketika membaca isi dari kertas yang aku ditemukan
seusai membuka peti matinya Dii. Alvi.. Alvi dimana?
Aku menoleh ke belakang untuk
mencari keberadaan Alvi, namun pemuda itu kini telah menghilang. Sial! Aku kini
sendirian. Astaga aku benci semua ini.
Monster itu mengejarku. Pohon
rasaksa yang menyeramkan itu kini tengah menuju ke arah ku. Aku berlari
terhuyung karena kaki ku sudah tak leluasa untuk berlari cepat. Hanya
derap-derap an kecil yang kini aku lakukan.
Mengapa monster itu mengejarku?
Bukankah yang ia inginkan itu Alvi? Karena jelas-jelas si Alvi lah yang membuka
kotak matinya.
Langkahku terhenti ketika aku
menemukan sebuah telaga yang terbentang luas dihadapanku. Sinar purnama yang
kini muncul membantuku melihat arus yang
mengalir tenang oleh dorongan angin.
Sayu-sayu aku memandangi telaga itu
yang entah mengapa aku ingin sekali untuk berenang dipermukaannya. Aku
menyentuh air itu dengan kaki-ku, mengapakkan hingga timbul cipratan-cipratan kecil
yang membasahi kaki ku hingga lutut.
Sedetik aku merasa tenang. Cipratan
lembut menghanyutkan pikiranku. Tubuhku bergejolak ingin merasakan sensasi air
telaga itu.
bersambung....